Gadis Sunda











{Maret 21, 2010}   Di Balik Kecantikan Wanita Sunda

Ada kesan umum, bahwa wanita Sunda pemalas dan suka berdandan. Benarkah demikian?

Memang susah mencari pasangan atau istri ideal. Cantik, pintar bekerja, beretika, setia, jujur relegius
dan feminim. Akan sempurna hidup seorang pria, bila mendapatkan istri seperti ini. Barangkali pula itu hanya padangan utopis saja. Tapi, Amir Hamzah, seorang general manager perusahaan asuransi, selalu berusaha untuk mendapatkannya.

Akibatnya, Amir Hamzah sering gontaganti pasangan. Sekarang dia mempunyai dua kekasih. Pertama, keturunan )awa, bekerja sebagai coordinator public relations di perusahaan elektronik. Secara karier wanita ini cukup bagus, namun secara fisik kurang cantik. Kulitnya sedikit hitam dan tubuhnya biasa-biasa saja, pokoknya bukan tipe Amir. Pacar kedua, perempuan Sunda. Cantik, kulit halus bak bengkuang dan pintar pula berdandan. Tapi secara karier dan intelektual, biasa-biasa saja, dan hanya sebagai karyawan biasa.

Amir bingung, mana yang harus dipilih, sementara usia dan orangtua terus mendesak. Diakuinya, bahwa kedua pacarnya itu mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sebagai pria normal, ia ingin memiliki istri cantik. Masalahnya, kecantikan belum menjamin apakah si wanita akan menjadi mitra hidup yang baik nantinya.

Lingkungan & Alam
Sudah menjadi pengetahuan bagi sebagian orang, bahwa wanita Sunda cantikcantik. Alamnya yang elok memberikan andil dalam hal ini, terutama untuk kehalusan kulit. Tapi, di balik keindahan dan kecantikan yang dimiliki wanita Sunda, terdapat unsur buruk, yaitu pemalas, dengan hobi berdandan dan bergaya seperti orang kaya. Tidak itu saja, dipercayai pula oleh sebagian orang, bahwa dalam berumah tangga, wanita Sunda selalu mengandalkan pendapatan suami. Tentu saja ini hanya pandangan sebagian orang. Sebab bukan berarti semua perempuan Sunda seperti itu.

Secara antropologis, banyak faktor yang menyebabkan wanita Sunda setiap berinteraksi dengan pria selalu mengandalkan keindahan fisik. Bukan kemampuan intelektual dan kepribadian yang kuat seperti wanita Sumatera Utara, Jawa dan Bali, yang tegar dalam kehidupan. Wanita-wanita Jawa, Bali dan Sumatera Utara, terkenal sebagai wanita ulet. Mereka tidak memilih-milih pekerjaan, yang penting halal. Ini bisa dilihat di terminal-terminal, pasar, dan ladang.

Menurut Agus Wiyanto, budaya Sunda adalah budaya yang memiliki sisi erotisme tinggi, yang bisa dilihat dari kesenian tarinya, seperti tarian Jaipong. Jaipong kental dengan goyangan tubuh, yang menonjolkan bagian-bagian tubuh yang seksi. Berbeda dengan tarian-tarian Jawa yang lebih sarat dengan simbol dan makna kehidupan.

“Alam yang subur meninabobokan wanita Sunda sampai terlena, hingga tidak perlu bekerja keras. Alam sudah menjamin kelangsungan. kehidupan mereka. Cukup suami yang bekerja di ladang atau sawah, sementara istri di rumah mengurus dan merawat anak, mempercantik diri, melayani suami dan membersihkan rumah,” tutur anggota Persatuan Cendekiawan Nasional Indonesia ini.

Agus menambahkan, keindahan dan kesuburan alam (dan kecantikan wanita) Jawa Barat ini sampai ke wilayah bagian pantai Jawa Barat, Banten (sebelum menjadi propinsi sendiri), yang termasuk bagi dari kota Paris in Java. Tidak jauh beda dengan Bogor yang pada zaman VOC dijadikan tempat peristirahatan kaum bangsawan Belanda.

Malah di sebagian daerah jawa Barat, ada pula wanita yang bangga menjadi janda. Ini terjadi karena adanya anggapan, bahwa wanita yang mampu menikah tiga atau empat kali, berarti wanita tersebut lebih bagus dibandingkan wanita lain yang hanya kawin satu kali. “Ini terjadi di Karawang, wilayah Pantai Utara dan Indramayu,” kata Agus.

Bila kondisi sosial seperti ini dibiarkan, tentu saja akan berpengaruh pada generasi berikutnya. Secara tidak langsung mereka akan melakukan apa yang telah diperbuat generasi sebelumnya. Akibatnya, pandangan orang terhadap wanita Sunda bisa semakin buruk.

Berbeda dengan wanita Jawa yang dikesankan suka bekerja keras. Bagi mereka, bekerja merupakan kehormatan. Lebih baik bekerja walau hasilnya kecil, daripada menjual diri tapi tidak halal. Agus menjelaskan, kelemahan wanita jawa adalah tidak mempuyai ambisi dan rencana matang. Akibatnya, mereka selalu marjinal, menjadi pembantu rumah tangga, pedagang sayuran di pasar, dan perjual jamu. Ini akibat rendahnya pendidikan yang membuat pola pikir dan pengembangan hidup menjadi rendah.

Dosen IISIP ini menambahkan, ada pula pandangan di kalangan orangtua yang mengatakan, bahwa tidak ada gunanya wanita bersekolah sampai ke perguruan tinggi. Pasalnya, wanita tetap akan kembali ke dapur mengurus dan merawat anak serta melayani suami. Pola pikir ini hanya bisa dihapus melalui pendidikan dan kesadaran akan fakta. Bahwa di era global kini, yang dibutuhkan dari wanita manapun (tidak hanya wanita Sunda) – bukan hanya kecantikan fisik – tapi juga kemampuan intelektual dan kemauan kerja yang tinggi.



ria andayani says:

Satu hal yang dapat saya pastikan intelektualitas tinggi seorang perempuan bisa memancarkan kecantikan yang menawan dalam waktu yang tak terhingga, sekalipun dia tidak cantik secara fisik. Sementara itu, Kecantikan tak akan berumur panjang tanpa disertai intelektualitas yang memadai. Terpesona hanya pandangan pertama, selanjutnya membosankan pada saat berinteraksi. Saur basa sundana mah, geulis tapi cemplang. Jadi, wajib bagi perempuan untuk senantiasa memperkaya intelektualitasnya. Dengan, demikian dia akan mampu memelihara kelebihannya secara fisik, bahkan piawai menutupi dan menyiasati kekurangannya. Alhasil, dia tampil menjadi perempuan yang smart dan menawan. Menawan kan tidak selamanya cantik kan. dan menutupi bahkan kekur



Kepada Teh Ria Andayani, saya sangat setuju dengan pendapat anda, tidak sedikit Gadis Cantik, namun tidak enak untuk dilihat, namun banyak Gadis tidak terlalu cantik, namun menemtramkan hati dan mata ketika melihatnya. Kecantikan itu sendiri tidak abadi, akan semakin berkurang dengan berjalannya umur. Namun Ilmu akan senantiasa bertambah. Terima Kasih



hehehe…tenang semua deh,,,pokoknya tenang,,,,hehehe,,,,
bingung neh hehe….

ah mau ngomong apa yah saya kira sudah diwakili oleh saudari berdua, ya saudari berdua,,,

jadi intinya tenangsemua hehe…



dildaar80 says:

Saya yg jawa ini senang dengan gadis atau wanita Sunda.
Cantik nan ayu..memang terkesan sensual..

Tiap2 orang khan punya ciri khas masing2.

Dengan upaya dan usaha akan ada perbaikan..

Jangan menyerah krn suatu stigma atau dogma..bisa dirubah atau disesuaikan kok…



santo says:

Ada anggapan kalau perempuan sunda suka selingkuh. Apakah benar demikian? Saya sendiri pria Jawa, dan sudah beristri. Lebih dari 5 selingkuhan saya adalah perempuan-perempuan sunda. Mereka masing-masing jg sudh punya suami.Teman saya juga begitu. Dia sama2 pria Jawa, dan dia punya 3 selingkuhan yg smuanya perempuan Sunda. Hebatnya lagi beberapa wanita sunda yang mnjadi selingkuhan itu juga punya selingkuhan lainnya.



Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: