Gadis Sunda











RMOL. Dua orang dekat Presiden SBY, Pramono Edhie Wibowo (PEW) dan Sri Mulyani Indrawati (SMI) digadang-gadang menjadi Calon Presiden (Capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014.

Namun Partai Demokrat tampaknya tidak mau terburu-buru mendukung kedua orang tersebut.

“Belum ada instruksi. Demokrat sendiri belum menyebut calonnya,” ujar Ketua DPP Partai Demokrat Departemen Pemberantasan Korupsi dan Mafia Hukum, Didi Irawadi kepada Rakyat Merdeka Online, Sabtu malam (2/10).

Masih menurut anggota Komisi III ini, secara ketentuan, Demokrat akan memilih calon presiden melalui mekanisme Dewan Majelis Tinggi.

“Dewan Majelis Tinggi ini berisi sembilan orang, termasuk presiden SBY didalamnya. Inilah yang akan menentukan calon anggota DPR, DPRD, kepala daerah dan calon presiden,” ujarnya. [arp]

Partai Demokrat sebagai partai penguasa, diakui saat ini tak memiliki figur yang cukup kuat untuk dijual pada Pilpres 2014 mendatang. Figur muda semacam Anas, Andi Mallarangeng atau Ibas-SBY, hanya dianggap tokoh ecek-ecek yang tak akan banyak memancing pemilih kalau mau dipaksakan untuk Capres atau Cawapres di tahun 2014 kelak.

Adapun figur PEW sebagai militer aktif yang orang lapangan, setidaknya bisa memenuhi harapan sebagian orang di negeri ini akan tetap langgengnya ketegasan dan keberanian seorang bekas Jenderal kalau dia memimpin NKRI kelak. Begitu pula SMI, ketokohannya yang dikenal di dunia internasional, memudahkan diplomasi ke negara-negara maju semakin terbuka untuk Indonesia kelak. Bila Demokrat jeli, mencalonkan keduanya sebagai pasangan Capres & Cawapres 2014, tentu sebuah pilihan yang rasional dan matang untuk menuju 2014 nanti. Setidaknya ada waktu sekitar 4 tahun ke depan untuk memoles dan mempersiapkannya mulai sekarang ini.

Diluar Demokrat, PDIP juga agak bermasalah kalau tetap akan mencalonkan kembali Megawati. Sudah 2 kali berturut-turut jamiat PDIP mencalonkan si Ibu ini, tapi tetap saja keok! Begitu pula dengan gabungan Parpol-parpol Islam, juga terjadi krisis tokoh yang bisa mereka jual ke ummatnya. Yang tersisa hanya Hatta Radjasa atau Din Syamsuddin, tapi karena kedua-duanya dikesankan berasal dari Muhammadiyah, tentulah belum bisa merangkul semua kelompok seperti warga NU misalnya. Diperkirakan, seperti 2009 lalu, parpol-parpol Islam itu hanya mengekor saja kepada figur yang mereka anggap punya kans untuk menjadi Presiden di tahun 2014 nanti.

Tentang figur Ical dan Prabowo, tampaknya masih sulit untuk bisa diterima sebagian besar pemilih di tahun 2014 kelak, apalagi pemilih muda, melihat ‘track record’nya selama ini. Terutama Ical, yang hampir tiap hari selalu ada informasi yang membukakan sepak-terjangnya di berbagai media dan internet, pastilah itu dibaca oleh sebagian besar pemilih muda di Tanah Air. Ical dan Prabowo, kelihatannya seperti ‘Kartu Mati’. Tapi majunya SMI, tentu tidak akan mulus, sebab ‘dendam kusumat’ GOLKAR tidak akan berhenti begitu saja, usai SMI dilengserkan lalu. Buktinya, baru teman-teman SMI bikin situs internet untuk mempromosikannya di tahun 2014 kelak, serta merta petinggi GOLKAR seperti Bamsoet sudah pasang kuda-kuda dengan mengancam untuk memperkarakan kembali Centruygate dan SMI dalam waktu dekat ini. Politik, man! …



jsb.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.